Panggung Musik Indie Ramaikan Taman Kencana Bogor, Ribuan Penonton Terpukau
Bogor, 26 April 2025 — Suasana malam akhir pekan di Taman Kencana, Kota Bogor, terasa berbeda dari biasanya. Ribuan pengunjung memadati area terbuka di jantung kota itu untuk menyaksikan konser musik indie bertajuk “Langit Senja” yang digelar Sabtu malam. Acara ini menjadi oase hiburan bagi warga yang haus akan pertunjukan musik berkualitas dengan nuansa lokal yang kental.
Konser yang digelar oleh komunitas kreatif Ruang Nada Bogor ini menghadirkan sejumlah band indie lokal dan nasional, antara lain Senandika, Langit Pagi, dan Maharani & The Folk. Tidak hanya sekadar pertunjukan musik, acara ini juga menjadi ajang pertemuan lintas komunitas kreatif, pelaku UMKM, serta penikmat seni.
Suasana mulai memanas sejak pukul 18.00 WIB, saat grup pembuka Senandika membawakan lagu-lagu bertema cinta dan keresahan generasi muda. Dengan lantunan gitar akustik dan vokal syahdu, mereka berhasil menyihir para penonton yang duduk bersila di pelataran taman. Tepuk tangan riuh menggema di antara deretan pepohonan besar yang menjadi ciri khas Taman Kencana.
“Acara seperti ini yang kami rindukan. Musiknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, suasananya intim tapi tetap megah,” ujar Lia (23), mahasiswa asal Dramaga, yang datang bersama teman-temannya.
Tak berselang lama, giliran Langit Pagi naik panggung. Band yang dikenal dengan warna musik folk pop ini tampil membawakan hits mereka seperti “Melodi Hujan” dan “Jendela Kota.” Penonton ikut bernyanyi, menciptakan koor massal yang menambah hangat suasana. Vokalis utama, Ario, sempat mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada panitia dan warga Bogor.
“Dulu kami manggung di kafe kecil di Sudirman, sekarang bisa tampil di taman yang penuh cinta ini. Terima kasih Bogor, kalian luar biasa!” seru Ario dari atas panggung.
Puncak acara ditandai dengan penampilan Maharani & The Folk, band asal Bandung yang mulai naik daun di kancah musik independen Tanah Air. Dengan gaya khas etnik dan lirik-lirik puitis, mereka sukses menghipnotis ribuan pasang mata yang larut dalam setiap nada. Lagu “Sajak Lautan” menjadi penutup konser yang membuat banyak penonton enggan beranjak.
Tak hanya musik, konser ini juga menghadirkan berbagai stan kuliner dan kerajinan tangan dari pelaku UMKM Bogor. Dari kopi lokal, makanan ringan khas Sunda, hingga aksesori handmade, semuanya turut meramaikan suasana. Sebuah bentuk sinergi antara seni, ekonomi kreatif, dan ruang publik yang patut diapresiasi.
“Biasanya kalau ada konser, fokusnya hanya ke panggung utama. Tapi di sini kita juga diajak menikmati kuliner lokal dan produk teman-teman kreatif. Ini konsep yang matang,” kata Dian Rachmawati, pelaku UMKM yang menjajakan produk sabun herbal buatannya.
Acara ini pun mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor. Kepala Disparbud Kota Bogor, Achmad Maulana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ruang publik seperti Taman Kencana perlu dihidupkan dengan kegiatan-kegiatan positif.
“Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda rutin. Selain mendukung musisi lokal, ini juga bagian dari upaya kita menghidupkan taman sebagai ruang pertemuan masyarakat dan budaya,” ujarnya.
Pihak keamanan dan kebersihan turut bersinergi untuk memastikan jalannya acara tetap aman dan nyaman. Puluhan petugas dari Satpol PP, Dishub, serta relawan komunitas turut diterjunkan untuk mengatur lalu lintas dan kebersihan kawasan sekitar.
Menurut data panitia, konser ini dihadiri sekitar 3.500 orang dari berbagai kalangan. Sebagian besar datang dari wilayah Bogor, namun ada pula yang datang dari Jakarta, Depok, hingga Sukabumi. Hal ini menunjukkan bahwa geliat musik indie tidak lagi menjadi konsumsi segelintir orang, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup urban masa kini.
Koordinator acara, Rifky Fadillah, menyebut bahwa konser ini merupakan hasil kerja kolaboratif dari berbagai komunitas seni di Bogor. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan kegiatan serupa di masa mendatang.
“Ini bukan sekadar konser, tapi bentuk perlawanan terhadap stagnasi ruang seni di kota kita. Kami ingin terus menghadirkan ruang alternatif bagi seniman muda untuk berkarya dan bertemu dengan publik secara langsung,” ucap Rifky.
Sementara itu, banyak pengunjung berharap acara seperti ini bisa menjadi agenda tetap bulanan. Selain menyajikan hiburan yang berkualitas, konser seperti ini dinilai mampu memperkuat identitas kota Bogor sebagai kota kreatif dan ramah anak muda.
“Semoga ke depan bisa lebih sering digelar. Kalau bisa juga mengundang musisi dari berbagai daerah, supaya makin kaya dan membuka jaringan antar kota,” kata Dimas, penonton asal Cibinong.
Saat konser usai dan para penonton mulai membubarkan diri, suasana taman tetap terasa hidup. Beberapa anak muda terlihat masih nongkrong sambil menyanyikan ulang lagu-lagu yang dibawakan malam itu. Malam pun turun dengan damai, seolah menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah malam penuh harmoni di jantung Kota Hujan.

Komentar
Posting Komentar